Palu  memang lebih terkenal akan keindahan wisata baharinya. Namun ternyata, di samping pantai dan teluk yang menjadi daya tarik kota ini, ada pesona budaya dan peninggalan purba di kota Palu yang layak untuk dijadikan destinasi wisata. Sou raja adalah tempat yang tak boleh untuk dilewatkan bagi mereka yang mencintai budaya dan sejarah. Sebelum mengunjungi Sou Raja menurut informasi dari Medi , ada beberapa hal yang harus kita persiapkan. Medi  adalah generasi ke -5 dari Raja Yojokodi. Dan  kamipun segera  melakukan pencarian  item yang disyaratkan oleh Medi. Kami langsung meluncur ke pasar terdekat untuk mencari  kapur sirih, pinang, gambir dan tembakau, juga rokok dan korek api. Setelah semua syarat kami dapatkan, kamipun langsung kembali ke Sou Raja. Setelah permohonan izin lalu  Medi melakukan  prosesi ritual  yang sudah biasa dia lakukan. Saya sedikit merinding ketika Medi melakukan prosesi ritual ini. Selanjutnya  beliau mengajak saya mengigit sedikit dari sajian yang kami bawa tersebut. Yahhhh, seperti  perjamuan selamat datang. Menggigit sedikit pinang, sedikit tembakau,  baru kita memulai pembicaraan. Saya sangat menikmati diskusi kecil ini. Medi  bercerita tentang tantangan saat ini adalah  bagaimana  agar generasi muda mencintai budaya dan sejarahnya. Bagaimana menciptakan generasi yang gemar ke museum dari pada ke mall, memang menjadi tantangan generasi ini.

Menurut Medi, rumah adat Sou raja dahulu berfungsi sebagai tempat tinggal para raja dan keluarga. Selain itu rumah adat tersebut juga sebagai pusat pemerintahan kerajaan. Pembangunan Sou Raja ini atas prakarsa Raja Yodjokodi pada sekitar abat 19 masehi. Luas keseluruhan Banua Oge atau Sou Raja adalah 32x11,5 meter. Tiang pada bangunan induk berjumlah 28 buah dan bagian dapur 8 buah. Bangunan Induk sendiri berukuran 11,5 x 24,30 meter, yeng terbagi atas 4 bagian yaitu :

a.      Gandaria ( Serambi )   : Berfungsi sebagai tempat ruang tunggu untuk tamu. Dibagian depan terletak anjungan sebagai tempat bertumpuhnya tanggah yang terdiri dari 9 anak tanggah dengan posisi saling berhadapan. ( Lihat pada gambar ).

b.      Lonta Karavana ( Ruang Depan )  : Ruangan ini digunakan sebagai tempat penerimaan tamu untuk kaum laki-laki dalam pelaksanaan upacara adat. Selain itu Ruangan ini juga digunakan sebagai tempat tidur bagi kaum laki-laki.

c.       Lonta Tatangana ( Ruang Tengah ):  Ruangan ini digunakan sebagai tempat musyawarah Raja beserta para tokoh-tokoh adat. Di ruangan ini juga terdapa dua kamar tidur untuk Raja.

d.      Lonta Rarana ( Ruang Belakang ) :  Ruangan ini dugunakan sebagai tempat makan untuk Raja beserta keluarga. Diruangan ini juga terdapat kamar untuk wanita dan para anak gadis. Selain itu ruangan ini juga digunakan untuk menerima kerabat dekat.

Bangunan Sou Raja memang terlihat artistik, karena hampir semua bagian bangunan ini diberi hiasan berupa kaligrafi Arab dan ukiran dengan motif bunga-bungaan dan daun-daunan. Hiasan-hiasan tersebut terdapat pada jelusi-jelusi pintu atau jendela, dinding-dinding bangunan, loteng, ruang depan, pinggiran cucuran atap, papanini, dan bangko-bangko. Semua hiasan tersebut melambangkan kesuburan, kemuliaan, keramah-tamahan dan kesejahteraan bagi penghuninya. Tidak terasa hari sudah menjelang sore dan kami harus melanjutkan perjalanan ke museum.  Thank' s ya  Medi, untuk kerendahan hati dan bersedia  menerima kedatangan saya  di Sou Raja.